Senin, 06 Mei 2013

Pengendalian Hama Pada Tanaman Tebu

BAB I . PENDAHULUAN
I.              LATAR BELAKANG

Dunia pertanian tidak akan lepas hubungannya dengan serangga. Peran tersebut berkaitan dengan aspek hubungan antara serangga dengan tumbuh-tumbuhan baik peranan serangga sebagai polinator, penyeimbang tropik komunitas dan bahkan sebagai hama yang merugikan. Maka peran peneliti khususnya di bidang entomologi di sini sangat dibutuhkan baik dalam hal analisis permasalahan maupun usaha pengendalian serangan hama di areal pertanian sehingga dapat didapat suatu ambang untuk dilakukannya suatu tindakan. Berbagai macam kerusakan pada tanaman hospes akibat aktivitas dari serangga hama, salah satunya adalah kerusakan oleh serangga penggali (miner) dan penggerek (borer). Kerusakan tipe ini diakibatkan oleh aktivitas hidup serangga yang menghuni di jaringan tubuh tanaman hospesnya seperti di dalam daun, batang, ataupun akar.
Saat ini para ahli entomologi pertanian dan kesehatan berpendapat bahwa cara-cara yang digunakan untuk menangani masalah hama harus bertujuan untuk menekan kerusakan tanaman melalui pengendalian jumlah populasi hama di bawah ambang ekonomi sekaligus memperhatikan keadaan lingkungan. Selama besarnya populasi serangga di bawah ambang ekonomi maka serangga tersebut belum dikatakan sebagai hama yang membahayakan.
Salah satu cara yang diterapkan dalam upaya pengendalian hama secara biologis adalah dengan menggunakan agensia hayati baik berupa predator alami maupun parasitoid. Trichogramma merupakan Hymenoptera parasitoid yang bersifat polifagus, menyukai hidup berkelompok dan sebagian besar merupakan parasitoid serangga-serangga dari ordo Lepidoptera. Parasitoid ini sangat menarik untuk dipelajari karena sebagian besar dari spesies-spesiesnya dapat diproduksi secara massal dan tersebar luas sebagai teknik augmentasi agensia hayati. Ukuran Trichogramma dewasa hanya 0,27 mm, namun mampu melumpuhkan telur inangnya selama 7 hari dengan cara menyuntikkan telur Trichogramma oleh serangga betina ke dalam telur inang.
Hingga saat ini paling sedikit 6 spesies yang berbeda secara morfologi telah diketahui, namun diperkirakan masih banyak lagi di alam yang dapat diidentifikasi secara biologis. Ciri morfologi yang membedakan satu spesies dengan spesies lainnya adalah bentuk dan jumlah silia pada sayap, serta panjang jumbai rambut pada lingkaran tepi sayap. Contoh spesies anggota Trichogramma antara lain adalah T. fasciatum yang dapat ditemukan di Amerika, T. nanum (Zehnt.) di India, dan T. evanescens di Eropa. Spesies Trichogramma memiliki preferensi dan spesifisitas inang yang berbeda satu sama lain, namun dapat hilang dalam kondisi pemeliharaan di laboratorium, sehingga diragukan keefektifannya di alam.
T. japonicum Ashm. merupakan parasit penting dari hama telur hama penggerek tebu dan hama penggerek padi (Chilo, Scirchophaga, Tryporyza) yang tersebar di bagian Asia timur dan tenggara T. japonicum berukuran 0,75 mm dengan mata merah yang jelas terpisah. Ovipositor dari T. japonicum betina lebih panjang jika dibandingkan dengan Trichogramma spp lainnya, sehingga dengan ovipositor yang panjang ini dapat menembus lapisan telur yang berambut contohnya pada hama pucuk tebu (Tryporyza nivella). Spesies Trichogramma lainnya yang digunakan sebagai pengendali hama tebu adalah T. australicum yang merupakan pengendali hama penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) di Madagaskar dan Mauritius.
Tebu yang banyak dibudidayakan di Indonesia (Saccarum officinarum L.) yang disebut sebagai noble sugar cane berasal dari Iria. Tebu di pulau Jawa yang dulunya ditanam di lahan sawah mulai bergeser ke lahan kering atau tegalan dan juga penanganannya berpindah dari mulanya oleh pabrik gula (PG) langsung menjadi oleh petani dalam program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), sehingga pabrik gula hanya bekerja sebagai pengolah tebu dengan bekerja sama dengan petani tebu dengan prinsip bagi hasil. Salah satu pabrik gula di pulau Jawa yang berada di propinsi DI Yogyakarta adalah PG Madukismo. Dengan target peningkatan produksi, maka pengendalian hama tebu merupakan salah satu cara mengatasi masalah produktivitas akibat hama.










             BAB II. HAMA TANAMAN TEBU

2.1.               hama pengerek batang bergaris (C. sacchariphagus)
2.2.               Hama Tikus
2.3.               penggerek pucuk tebu (Try. nivella),
2.4.               kutu perisai (Aulacaspis spp)
2.5.               kutu bulu putih (Ceratovacuna lanigera)
2.6.               belalang (Locusta migratoria)
2.7.               hama uret (larva kumbang dari famili Melolonthidae dan Rutelidae)
2.8.               rayap (Macrotermes gilvus dan Microcerotermes sp






BAB III. TEKNOLOGI PENGENDALIAN

3.1.TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BATANG BERGARIS
Pemberantasan hama ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1.    Dengan cara ROGESAN, yaitu dengan cara memotong semua pucuk tanaman yang ada tanda-tanda serangan. Pemotongan diusahakan kena ulatnya, tetapi tidak sampai merusak titik tumbuh. Rogesan diulangi setiap 2 minggu dan dapat diakhiri jika tanaman sudah cukup tinggi (umur 5 sampai 6 bulan).
2.    Cara SUNTIKAN dengan Furadan 3G. Cara suntikan ini dilakukan untuk mengganti cara Rogesan, terutama jika tanaman tebu telah membentuk ruas (pada umur 3,5 bulan ke atas). Yang disuntik hanya tanaman tebu yang terserang. Tempat penyuntikan kira-kira 22cm di bawah sendi daun teratas. Cara suntikan ini diulangi setiap 10-12 hari dan dapat diakhiri jika tanaman sudah cukup tinggi (umur 5-6 bulan).
3.    Pemberian Furadan 3G pada tanah. Ini dilakukan pada waktu tanaman umur 3 bulan dan diulangi pada waktu umur 5 bulan. Banyaknya Furadan 3G 35-40 kg/Ha sekali tabur.
4.      Cara BIOLOGIS dengan Trichogramma japonicum. Pelepasan Trichogramma japonicum 2-4 pias/Ha/minggu mulai tanaman umur 2 bulan – 4 bulan. Jumlah pias = 20-40 pias/Ha.

3.2. TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA TIKUS
1. Cara pengendalian tikus dengan rodentisida yaitu dengan teknik pengumpanan beracun.  Untuk pengendalian tikus dengan menggunakan umpan beracun, sebaiknya dipilih umpan yang disukai oleh tikus sawah maupun tikus dari genus Bandicota. Hal ini dilakukan karena dikhawatirkan tikus yang menyerang tanaman tebu bukan hanya tikus jenis tikus sawah tetapi juga tikus Bandicota.  Pengendalian tikus dengan cara umpan racun tikus ini merupakan pengendalian yang praktis, namun pengendalian dengan menggunakan bahan kimia/rodentisida memiliki kelemahan antara lain: 
·         Penyimpanannya harus aman (di tempat yang tidak terjangkau oleh anak-anak seperti dilemari yang terkunci atau tempat  yang agak tinggi sebelum dan setelah digunakan).  Karena pestisida tidak saja beracun terhadap organisme sasaran  tetapi juga terhadap organisme lainnya seperti manusia dan hewan peliharaan.
·         Racun tikus yang mengandung bahan aktif  zinc phosphide dapat masuk ke dalam tubuh melalui hidung, mulut atau diserap melalui kulit yang luka, apabila racun ini dicampur atau kontak dengan air atau bahan kimia dengan PH asam akan menghasilkan gas fosfin. Keracunan bahan kimia ini menyebabkan sesak paru-paru, tekanan darah menjadi rendah, sukar bernafas, muntah,  denyut jantung tidak beraturan, kerusakan ginjal, pengurangan sel darah putih, koma dan dapat menyebabkan kematian.
·         Penggunaan/penyimpanan umpan di lapangan harus tepat/jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.
Pengumpanan yang telah banyak dilakukan yaitu dengan klerat, dan penggunaan klerat ini diketahui efektif untuk tikus sawah, namun untuk jenis tikus Bandicota cenderung kurang efektif, hal ini dikarenakan tikus Bandicota tidak menyukai klerat, oleh karena itu dalam pengendalian tikus pada tebu perlu alternatif umpan yang disukai oleh kedua jenis tikus tersebut.  Untuk umpan beracun sebaiknya menggunakan rodentisida yang berbahan aktif bromadiolon atau coumatetralyl.  Keduanya racun tersebut bersifat kronis sehingga tidak menyebabkan tikus mati seketika.  Penggunaan racun yang bersifat kronis tersebut bertujuan untuk menghindari sifat jera umpan yang dimiliki tikus, sehingga pengendalian dengan pengumpanan dapat efektif.
2.   Pengendalian tikus dengan cara ditangkap/diburu kemudian dimatikan, pengendalian ini merupakan pengendalian yang ramah lingkungan.  Pengendalian ini dapat dilaksanakan dengan cara pemanfaatan tubuh tikus sebagai bahan yang memiliki nilai ekonomis, sehingga merangsang orang untuk menangkap tikus secara kontinyu misalnya dengan kegiatan gropyokan/perburuan tikus secara serentak di wilayah pertanaman yang luas, sehingga siklus hidup tikus dapat diputus.  Kegiatan gropyokan sebaiknya dilaksanakan sebelum penanaman tebu. 
Kegiatan gropyokan dapat dipadukan dengan pengemposan (asap belerang) pada lubang-lubang tikus.  Tujuan pengemposan untuk membuat tikus sesak karena asap belerang yang diemposkan ke lubang-lubang tikus, sehingga tikus keluar dari lubang untuk mencari udara, hal tersebut memudahkan tikus untuk ditangkap.
3.    Cara lainnya untuk pengendalian tikus pada pertanaman tebu lahan sawah, menurut W. Daradjat Natawigena (UNPAD) dapat menerapkan sistem perangkap/bubu tikus yang dipadukan dengan tanaman padi sebagai tanaman perangkap tikus.  Cara ini merupakan metode pengendalian non kimiawi untuk pengendalian tikus pada pertanaman padi di lahan sawah beririgasi.  Selain sistem bubu perangkap, terdapat beberapa jenis metode pengendalian tikus sawah yang dapat digunakan oleh petani diantaranya pemagaran yang dirangkai secara sederhana atau pagar plastik untuk mencegah tikus masuk ke pertanaman dengan cara memagari pertanaman perangkap secara keseluruhan.
http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/images/stories/2011/tulisan/perangkap2.jpg





Cara pemagaran ini dapat dikombinasikan dengan perangkap atau jebakan yang dipasang pada pintu masuk, oleh karena itu disebut dengan istilah Trap Barrier System atau TBS.  Dengan mengkombinasikan metode TBS dan pemagaran telah terbukti efektif dalam menurunkan kerusakan tikus di lahan sawah beririgasi di Indonesia dan Vietnam.  Berdasarkan hal tersebut, metode ini dapat digunakan sebagai acuan penerapan metode pengendalian tikus pada tanaman tebu terutama http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/images/stories/2011/tulisan/perangkap3.jpgtanaman tebu yang ditanam di lahan sawah. 
Penerapan TBS harus dilakukan secara terencana dan dipelihara dengan baik. Padi yang digunakanpun menurutnya harus menggunakan padi lokal yang wangi yang disukai tikus, serta ditanam 3 minggu lebih awal sebelum tanaman utama ditanam.  Satu perangkap TBS luasnya 600 m2 dan jumlah perangkap bumbun minimal 4 buah dan tiap TBS efektif untuk pengendalian tikus pada lahan seluas 8 ha.
Perangkap bumbun yang digunakan adalah perangkap yang terdapat corong didalamnya sehingga tikus dapat dengan mudah masuk ke dalam perangkap namun tidak dapat keluar.  Pada TBS terdapat galengan dalam dan galengan luar, diantara kedua galengan tersebut dibuat parit.  Plastik dibentangkan sepanjang sisi luar galengan dalam dan terendam di air parit.
Pada plastik tersebut dibuat pintu khusus untuk perangkap bumbun tikus.  Ajir untuk menahan plastik jangan diletakkan di sisi luar dekat parit karena justru akan digunakan oleh tikus untuk memanjat masuk ke TBS dan bagian bawah pagar rapat dengan tanah dan selalu dalam air.  Pagar dapat mengggunakan plastik biasa atau menggunakan terpal. Plastik dapat digunakan pada 1 (satu) musim saja sedangkan terpal dapat digunakan sebanyak 4 (empat) musim. Desain satu unit TBS pada tanaman tebu seperti pada gambar di bawah ini : 
http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/images/stories/2011/tulisan/perangkap%20yani.jpg





Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dengan mengkombinasikan beberapa metode pengendalian tikus tersebut diharapkan dapat menekan populasi tikus di lapangan, terutama yang merupakan hama yang menyerang tebu, sehingga produksi tebu dapat meningkat.
4.    Kendalikan dengan gropyokan, musuh alami yaitu : ular, anjing atau burung hantu
3.3. PENGGENDALIAN HAMA PENGGEREK PUCUK
Penyebab kerusakan: ada beberapa jenis ulat, yaitu: ulat penggerek bergaris, ulat penggerek berkilat, ulat penggerek jambon, ulat penggerek abu-abu. Tanda-tanda serangan hama ini mulai tampak pada tanaman umur 1 bulan dengan tanda-tanda pupus layu kemudian mengering. Jika dilihat pada pangkal batang terdapat lubang gerekan ulat. Cara pengamatan banyaknya serangan hama ini seperti pada pengamatan penggerek pucuk (dapat dilakukan bersama-sama dengan pengamatan penggerek pucuk). Pengamatan hanya dilakukan pada tanaman umur 1 bulan sampai umur 3,5 bulan sebanyak 2-4 kali pengamatan (ulangan setiap 2 minggu / 1 bulan).
Sedangkan cara menghitung serangan; misalkan lubang yang diamati 20 lubang terdapat 1500 tanaman, yang terserang ada 16 batang, maka besarnya serangan = 16/1500 x 100% = ±1%. Pemberantasan untuk hama ini dapat dilakukan jika tingkat serangan sudah mencapai 400 batang / Ha atau lebih (kira-kira 0,5% serangan), dengan cara :
1.    Memotong tanaman yang pupusnya mulai layu sampai pada pangkal batang (sampai ulatnya kena).
2.      Pelepasan Trichogramma sp 2-4 pias/Ha/minggu mulai tanaman umur 2 bulan-4 bulan (jumlah pias 50-100 pias per Ha).


3.4. PENGENDALIAN HAMA KUTU PERISAI/KUTU CABUK (BULU PUTIH)

Pemberantasan :
1.    Dengan cara diplurut (dilap dengan kain basah). Ini dilakukan jika serangan masih sedikit dan masih terjangka oleh tangan.
2.    Dengan cara Rompelan. Dilakukan jika serangan bertambah banyak maka daun tebu yang ada kutunya dipotong dan dimasukkan ke dalam karung dan dibawa keluar dari kebun. Selanjutnya dapat dibakar atau dibenamkan ke sawah.
3.    Cara biologis. Kutu bulu putih biasanya diserang parasit Encarsia dan predator berupa ulat (conobathra). Maka jika pada pengamatan kita banyak menemukan parasit dan predator ini maka sebaiknya ini dipindah ke kebun lain yang belum banyak parasit / predatornya.
4.      Penyemprotan dengan pestisida yang sistemik (misalnya Azodrin, Anth atau Dimecron). Penyemprotan ini dapat dilakukan jika kutu tampak bertambah dengan pesat.

3.5. TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA URET

Pengendalikan hama uret perlu ditempuh dengan 3 cara pemberantasan yaitu :
1.    Pengumpulan / pengambilan hama uret dilakukan pada waktu pengolahan tanah pada bulan Mai – Juli / Agustus.
2.    Pengumpulan / pengambilan ampal dilakukan pada bulan Oktober – November, pada waktu musim ampal kawin dan bertelur.
Pemberian pestisida :
1.    Dilakukan sebelum tanam, jika pada pengolahan tanah dijumpai banyak uret.
2.    Dilakukan pada bulan Oktober / November pada permulaan musim hujan. Pemberian pestisida pada saat ini dimaksudkan untuk membunuh uret yang baru menetas. Berhubung pada bulan Oktober / November tanaman sudah besar maka pemberiannya dilakukan bersamaan gulud akhir. Pestisida diberikan di kiri kanan barisan tanaman sedalam 10 – 15 cm.
3.    Dosis pestisida : Jika digunakan Furadan 3G / Dharmafur 3G, pada saat tanamn dapat diberi 25 – 30 kg / Ha, dan pada bulan Oktober / November diberi 50 – 60 kg / Ha.

Salah satu usaha terpadu yang dipilih Laboratorium Bina Sarana Tani dalam mengatasi serangan hama penggerek tebu adalah penerapan serangga parasitoit, Trichogramma sp.
Trichogramma spp merupakan parasit telur yang polyphage dan cosmopolitis. Di indonesia dikenal sebagai parasit telur penggerek batang tebu. Misalnya : Argyroploce schistaceana, Sesamia inferens, Chilotraea infuscatella, Chilo auricilius, Chilo sacchariphagus. Sistematika Trichogramma adalah sebagai berikut:
Ordo : Hymenoptera
Sub ordo : Apocrita
Super familia : Chaleidoidea
Familia : Trichogrammatida
Genus : Trichogramma
Species : Trichogramma spp.
Species-species yang terkenal antara lain: Trichogramma japonicum, T. Australicum, T.nana, T.minutum.
3.6. TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA BELALANG
Pengendaliannya  :
  1. Menanam tanaman tebu secara serentaK
  2. Membersihkan sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi tempat berkembang biak bagi belalang.
  3. Menangkap belalang pada pagi hari dengan menggunakan jala penangkap.
  4. Penangkapan menggunakan umpan bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga.
  5. Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi belalang.
  6. Melakukan pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.

DAFTAR PUSTAKA


Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT), 2010, Badan Penelitian Pengembangan Pertanian, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Tanaman Perangkap TBS (Trapp Barier system) untuk hama tikus, (www.youtube.com/watch?v=gd38md6G3IQ), diakses Mei 2011
Tikus serang puluhan hektare tebu, http://hileud.com/ , diakses Mei 2011
Pemasangan Pagar Plastik dan Bubu Perangkap Hama Tikus (http://bengkulu.litbang.deptan.go.id/ind), diakses Juni 2011.
Bahaya Keracunan Pestisida Di Rumah Tangga, (http://www.pom.go.id) diakses juni 2011

DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN - KEMENTERIAN PERTANIAN
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Kanpus Deptan, Pasar Minggu-Jakarta 12550 (Telp. 021-7815380-4)
sugiartoagribisnis.wordpress.com/2011/01/20/macam-macam-hama-dan... - Salinan
binaukm.com/2010/06/teknik-pemeliharaan-tebu-dalam-usaha-budidaya-tebu
ditjenbun.deptan.go.id/...view=article&id=76:hama-pemakan-akar-tebu.
ditjenbun.deptan.go.id/...id=122:pengendalian-tikus-pada-tebu-lahan.
bbtebu.litbang.deptan.go.id/.../510-pengendalian-hama-penggerek-batang



2 komentar:

  1. Apakah ada musuh alami ( predator/paradstoid ) Hama kutu perisai yanng bisa dikembangbiakan di laboratorium

    BalasHapus
  2. Slotty Casino Resort Las Vegas - Mapyro
    Find 공주 출장마사지 the best prices on 과천 출장마사지 Slotty Casino 동해 출장마사지 Resort Las Vegas in Las Vegas (NV). Mapyro 시흥 출장안마 users can always navigate to the site with real-time 여주 출장마사지 navigation.

    BalasHapus