BAB I .
PENDAHULUAN
I.
LATAR BELAKANG
Dunia pertanian tidak
akan lepas hubungannya dengan serangga. Peran tersebut berkaitan dengan aspek
hubungan antara serangga dengan tumbuh-tumbuhan baik peranan serangga sebagai
polinator, penyeimbang tropik komunitas dan bahkan sebagai hama yang merugikan.
Maka peran peneliti khususnya di bidang entomologi di sini sangat dibutuhkan
baik dalam hal analisis permasalahan maupun usaha pengendalian serangan hama di
areal pertanian sehingga dapat didapat suatu ambang untuk dilakukannya suatu
tindakan. Berbagai macam kerusakan pada tanaman hospes akibat aktivitas dari
serangga hama, salah satunya adalah kerusakan oleh serangga penggali (miner)
dan penggerek (borer). Kerusakan tipe ini diakibatkan oleh aktivitas
hidup serangga yang menghuni di jaringan tubuh tanaman hospesnya seperti di
dalam daun, batang, ataupun akar.
Saat ini para ahli
entomologi pertanian dan kesehatan berpendapat bahwa cara-cara yang digunakan
untuk menangani masalah hama harus bertujuan untuk menekan kerusakan tanaman
melalui pengendalian jumlah populasi hama di bawah ambang ekonomi sekaligus
memperhatikan keadaan lingkungan. Selama besarnya populasi serangga di bawah
ambang ekonomi maka serangga tersebut belum dikatakan sebagai hama yang
membahayakan.
Salah satu cara yang
diterapkan dalam upaya pengendalian hama secara biologis adalah dengan
menggunakan agensia hayati baik berupa predator alami maupun parasitoid. Trichogramma
merupakan Hymenoptera parasitoid yang bersifat polifagus, menyukai hidup
berkelompok dan sebagian besar merupakan parasitoid serangga-serangga dari ordo
Lepidoptera. Parasitoid ini sangat menarik untuk dipelajari karena
sebagian besar dari spesies-spesiesnya dapat diproduksi secara massal dan
tersebar luas sebagai teknik augmentasi agensia hayati. Ukuran Trichogramma
dewasa hanya 0,27 mm, namun mampu melumpuhkan telur inangnya selama
7 hari dengan cara menyuntikkan telur Trichogramma oleh serangga betina
ke dalam telur inang.
Hingga saat ini paling
sedikit 6 spesies yang berbeda secara morfologi telah diketahui, namun
diperkirakan masih banyak lagi di alam yang dapat diidentifikasi secara
biologis. Ciri morfologi yang membedakan satu spesies dengan spesies lainnya
adalah bentuk dan jumlah silia pada sayap, serta panjang jumbai rambut pada lingkaran
tepi sayap. Contoh spesies anggota Trichogramma antara lain
adalah T. fasciatum yang dapat ditemukan di Amerika, T. nanum (Zehnt.)
di India, dan T. evanescens di Eropa. Spesies Trichogramma memiliki
preferensi dan spesifisitas inang yang berbeda satu sama lain, namun dapat
hilang dalam kondisi pemeliharaan di laboratorium, sehingga diragukan
keefektifannya di alam.
T. japonicum Ashm.
merupakan parasit penting dari hama telur hama penggerek tebu dan hama
penggerek padi (Chilo, Scirchophaga, Tryporyza) yang tersebar di bagian
Asia timur dan tenggara T. japonicum berukuran 0,75 mm dengan mata merah
yang jelas terpisah. Ovipositor dari T. japonicum betina
lebih panjang jika dibandingkan dengan Trichogramma spp lainnya,
sehingga dengan ovipositor yang panjang ini dapat menembus lapisan telur yang
berambut contohnya pada hama pucuk tebu (Tryporyza nivella). Spesies Trichogramma
lainnya yang digunakan sebagai pengendali hama tebu adalah T.
australicum yang merupakan pengendali hama penggerek batang tebu bergaris (C.
sacchariphagus) di Madagaskar dan Mauritius.
Tebu yang banyak
dibudidayakan di Indonesia (Saccarum officinarum L.) yang disebut
sebagai noble sugar cane berasal dari Iria. Tebu di
pulau Jawa yang dulunya ditanam di lahan sawah mulai bergeser ke lahan kering
atau tegalan dan juga penanganannya berpindah dari mulanya oleh pabrik gula
(PG) langsung menjadi oleh petani dalam program Tebu Rakyat Intensifikasi
(TRI), sehingga pabrik gula hanya bekerja sebagai pengolah tebu dengan bekerja
sama dengan petani tebu dengan prinsip bagi hasil. Salah satu pabrik gula di
pulau Jawa yang berada di propinsi DI Yogyakarta adalah PG Madukismo. Dengan
target peningkatan produksi, maka pengendalian hama tebu merupakan salah satu
cara mengatasi masalah produktivitas akibat hama.
BAB II. HAMA TANAMAN TEBU
2.1.
hama pengerek batang bergaris (C. sacchariphagus)
2.2.
Hama Tikus
2.3.
penggerek pucuk tebu (Try. nivella),
2.4.
kutu perisai (Aulacaspis spp)
2.5.
kutu bulu putih (Ceratovacuna lanigera)
2.6.
belalang (Locusta migratoria)
2.7.
hama uret (larva kumbang dari famili Melolonthidae dan Rutelidae)
2.8.
rayap (Macrotermes gilvus dan Microcerotermes sp
BAB III. TEKNOLOGI PENGENDALIAN
3.1.TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA
PENGGEREK BATANG BERGARIS
Pemberantasan
hama ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1. Dengan cara ROGESAN, yaitu dengan cara memotong semua
pucuk tanaman yang ada tanda-tanda serangan. Pemotongan diusahakan kena
ulatnya, tetapi tidak sampai merusak titik tumbuh. Rogesan diulangi setiap 2
minggu dan dapat diakhiri jika tanaman sudah cukup tinggi (umur 5 sampai 6
bulan).
2. Cara SUNTIKAN dengan Furadan 3G. Cara suntikan ini
dilakukan untuk mengganti cara Rogesan, terutama jika tanaman tebu telah
membentuk ruas (pada umur 3,5 bulan ke atas). Yang disuntik hanya tanaman tebu
yang terserang. Tempat penyuntikan kira-kira 22cm di bawah sendi daun teratas.
Cara suntikan ini diulangi setiap 10-12 hari dan dapat diakhiri jika tanaman
sudah cukup tinggi (umur 5-6 bulan).
3. Pemberian Furadan 3G pada tanah. Ini dilakukan pada waktu
tanaman umur 3 bulan dan diulangi pada waktu umur 5 bulan. Banyaknya Furadan 3G
35-40 kg/Ha sekali tabur.
4. Cara BIOLOGIS dengan Trichogramma japonicum.
Pelepasan Trichogramma japonicum 2-4 pias/Ha/minggu mulai tanaman
umur 2 bulan – 4 bulan. Jumlah pias = 20-40 pias/Ha.
3.2.
TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA TIKUS
1. Cara pengendalian tikus dengan
rodentisida yaitu dengan teknik pengumpanan beracun. Untuk pengendalian
tikus dengan menggunakan umpan beracun, sebaiknya dipilih umpan yang disukai
oleh tikus sawah maupun tikus dari genus Bandicota. Hal ini dilakukan
karena dikhawatirkan tikus yang menyerang tanaman tebu bukan hanya tikus jenis
tikus sawah tetapi juga tikus Bandicota. Pengendalian tikus dengan
cara umpan racun tikus ini merupakan pengendalian yang praktis, namun
pengendalian dengan menggunakan bahan kimia/rodentisida memiliki kelemahan
antara lain:
·
Penyimpanannya harus aman (di tempat yang tidak terjangkau oleh anak-anak seperti
dilemari yang terkunci atau tempat yang agak tinggi sebelum dan setelah
digunakan). Karena pestisida tidak saja beracun terhadap organisme
sasaran tetapi juga terhadap organisme lainnya seperti manusia dan hewan
peliharaan.
· Racun
tikus yang mengandung bahan aktif zinc phosphide dapat
masuk ke dalam tubuh melalui hidung, mulut atau diserap melalui kulit yang
luka, apabila racun ini dicampur atau kontak dengan air atau bahan kimia dengan
PH asam akan menghasilkan gas fosfin. Keracunan bahan kimia ini menyebabkan
sesak paru-paru, tekanan darah menjadi rendah, sukar bernafas, muntah,
denyut jantung tidak beraturan, kerusakan ginjal, pengurangan sel darah putih,
koma dan dapat menyebabkan kematian.
·
Penggunaan/penyimpanan umpan di lapangan harus tepat/jauh dari jangkauan
anak-anak dan hewan peliharaan.
Pengumpanan yang telah banyak
dilakukan yaitu dengan klerat, dan penggunaan klerat ini diketahui efektif
untuk tikus sawah, namun untuk jenis tikus Bandicota cenderung kurang
efektif, hal ini dikarenakan tikus Bandicota tidak menyukai klerat, oleh
karena itu dalam pengendalian tikus pada tebu perlu alternatif umpan yang
disukai oleh kedua jenis tikus tersebut. Untuk umpan beracun sebaiknya
menggunakan rodentisida yang berbahan aktif bromadiolon atau coumatetralyl.
Keduanya racun tersebut bersifat kronis sehingga tidak menyebabkan tikus mati
seketika. Penggunaan racun yang bersifat kronis tersebut bertujuan untuk
menghindari sifat jera umpan yang dimiliki tikus, sehingga pengendalian dengan
pengumpanan dapat efektif.
2. Pengendalian tikus dengan cara
ditangkap/diburu kemudian dimatikan, pengendalian ini merupakan pengendalian
yang ramah lingkungan. Pengendalian ini dapat dilaksanakan dengan cara
pemanfaatan tubuh tikus sebagai bahan yang memiliki nilai ekonomis, sehingga
merangsang orang untuk menangkap tikus secara kontinyu misalnya dengan kegiatan
gropyokan/perburuan tikus secara serentak di wilayah pertanaman yang luas,
sehingga siklus hidup tikus dapat diputus. Kegiatan gropyokan sebaiknya
dilaksanakan sebelum penanaman tebu.
Kegiatan
gropyokan dapat dipadukan dengan pengemposan (asap belerang) pada lubang-lubang
tikus. Tujuan pengemposan untuk membuat tikus sesak karena asap belerang
yang diemposkan ke lubang-lubang tikus, sehingga tikus keluar dari lubang untuk
mencari udara, hal tersebut memudahkan tikus untuk ditangkap.
3. Cara lainnya untuk pengendalian tikus pada pertanaman tebu
lahan sawah, menurut W. Daradjat Natawigena (UNPAD) dapat menerapkan sistem
perangkap/bubu tikus yang dipadukan dengan tanaman padi sebagai tanaman
perangkap tikus. Cara ini merupakan metode pengendalian non kimiawi untuk
pengendalian tikus pada pertanaman padi di lahan sawah beririgasi. Selain
sistem bubu perangkap, terdapat beberapa jenis metode pengendalian tikus sawah
yang dapat digunakan oleh petani diantaranya pemagaran yang dirangkai secara
sederhana atau pagar plastik untuk mencegah tikus masuk ke pertanaman dengan
cara memagari pertanaman perangkap secara keseluruhan.

Cara pemagaran ini dapat dikombinasikan dengan
perangkap atau jebakan yang dipasang pada pintu masuk, oleh karena itu disebut
dengan istilah Trap Barrier System atau TBS. Dengan mengkombinasikan metode TBS dan pemagaran telah
terbukti efektif dalam menurunkan kerusakan tikus di lahan sawah beririgasi di
Indonesia dan Vietnam. Berdasarkan hal tersebut, metode ini dapat
digunakan sebagai acuan penerapan metode pengendalian tikus pada tanaman tebu
terutama
tanaman tebu yang ditanam di lahan
sawah.
tanaman tebu yang ditanam di lahan
sawah.
Penerapan TBS harus dilakukan secara terencana dan
dipelihara dengan baik. Padi yang digunakanpun menurutnya harus menggunakan
padi lokal yang wangi yang disukai tikus, serta ditanam 3 minggu lebih awal
sebelum tanaman utama ditanam. Satu perangkap TBS luasnya 600 m2 dan jumlah
perangkap bumbun minimal 4 buah dan tiap TBS efektif untuk pengendalian tikus
pada lahan seluas 8 ha.
Perangkap bumbun yang digunakan adalah perangkap yang
terdapat corong didalamnya sehingga tikus dapat dengan mudah masuk ke dalam
perangkap namun tidak dapat keluar. Pada TBS terdapat galengan dalam dan
galengan luar, diantara kedua galengan tersebut dibuat parit. Plastik
dibentangkan sepanjang sisi luar galengan dalam dan terendam di air parit.
Pada plastik tersebut dibuat pintu khusus untuk perangkap
bumbun tikus. Ajir untuk menahan plastik jangan diletakkan di sisi luar
dekat parit karena justru akan digunakan oleh tikus untuk memanjat masuk ke TBS
dan bagian bawah pagar rapat dengan tanah dan selalu dalam air. Pagar
dapat mengggunakan plastik biasa atau menggunakan terpal. Plastik dapat
digunakan pada 1 (satu) musim saja sedangkan terpal dapat digunakan sebanyak 4
(empat) musim. Desain satu unit TBS pada tanaman tebu seperti pada gambar di
bawah ini :

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas,
dengan mengkombinasikan beberapa metode pengendalian tikus tersebut diharapkan
dapat menekan populasi tikus di lapangan, terutama yang merupakan hama yang
menyerang tebu, sehingga produksi tebu dapat meningkat.
4. Kendalikan dengan
gropyokan, musuh alami yaitu : ular, anjing atau burung hantu
3.3.
PENGGENDALIAN HAMA PENGGEREK PUCUK
Penyebab kerusakan: ada beberapa
jenis ulat, yaitu: ulat penggerek bergaris, ulat penggerek berkilat, ulat
penggerek jambon, ulat penggerek abu-abu. Tanda-tanda serangan hama ini mulai
tampak pada tanaman umur 1 bulan dengan tanda-tanda pupus layu kemudian
mengering. Jika dilihat pada pangkal batang terdapat lubang gerekan ulat. Cara
pengamatan banyaknya serangan hama ini seperti pada pengamatan penggerek pucuk
(dapat dilakukan bersama-sama dengan pengamatan penggerek pucuk). Pengamatan
hanya dilakukan pada tanaman umur 1 bulan sampai umur 3,5 bulan sebanyak 2-4
kali pengamatan (ulangan setiap 2 minggu / 1 bulan).
Sedangkan cara menghitung serangan;
misalkan lubang yang diamati 20 lubang terdapat 1500 tanaman, yang terserang
ada 16 batang, maka besarnya serangan = 16/1500 x 100% = ±1%. Pemberantasan
untuk hama ini dapat dilakukan jika tingkat serangan sudah mencapai 400 batang
/ Ha atau lebih (kira-kira 0,5% serangan), dengan cara :
1. Memotong tanaman yang pupusnya mulai layu sampai pada
pangkal batang (sampai ulatnya kena).
2. Pelepasan Trichogramma sp 2-4 pias/Ha/minggu mulai
tanaman umur 2 bulan-4 bulan (jumlah pias 50-100 pias per Ha).
3.4. PENGENDALIAN HAMA KUTU PERISAI/KUTU CABUK (BULU PUTIH)
Pemberantasan :
1. Dengan cara diplurut (dilap dengan kain basah). Ini
dilakukan jika serangan masih sedikit dan masih terjangka oleh tangan.
2. Dengan cara Rompelan. Dilakukan jika serangan bertambah
banyak maka daun tebu yang ada kutunya dipotong dan dimasukkan ke dalam karung
dan dibawa keluar dari kebun. Selanjutnya dapat dibakar atau dibenamkan ke
sawah.
3. Cara biologis. Kutu bulu putih biasanya diserang parasit Encarsia
dan predator berupa ulat (conobathra). Maka jika pada pengamatan kita banyak
menemukan parasit dan predator ini maka sebaiknya ini dipindah ke kebun lain
yang belum banyak parasit / predatornya.
4. Penyemprotan dengan pestisida yang sistemik (misalnya
Azodrin, Anth atau Dimecron). Penyemprotan ini dapat dilakukan jika kutu tampak
bertambah dengan pesat.
3.5. TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA URET
Pengendalikan hama uret perlu ditempuh dengan 3 cara
pemberantasan yaitu :
1. Pengumpulan / pengambilan hama uret dilakukan pada waktu
pengolahan tanah pada bulan Mai – Juli / Agustus.
2. Pengumpulan / pengambilan ampal dilakukan pada bulan
Oktober – November, pada waktu musim ampal kawin dan bertelur.
Pemberian pestisida :
1. Dilakukan sebelum tanam, jika pada pengolahan tanah
dijumpai banyak uret.
2. Dilakukan pada bulan Oktober / November pada permulaan
musim hujan. Pemberian pestisida pada saat ini dimaksudkan untuk membunuh uret
yang baru menetas. Berhubung pada bulan Oktober / November tanaman sudah besar
maka pemberiannya dilakukan bersamaan gulud akhir. Pestisida diberikan di kiri
kanan barisan tanaman sedalam 10 – 15 cm.
3. Dosis pestisida : Jika digunakan Furadan 3G / Dharmafur
3G, pada saat tanamn dapat diberi 25 – 30 kg / Ha, dan pada bulan Oktober /
November diberi 50 – 60 kg / Ha.
Salah satu usaha terpadu yang dipilih Laboratorium Bina
Sarana Tani dalam mengatasi serangan hama penggerek tebu adalah penerapan
serangga parasitoit, Trichogramma sp.
Trichogramma spp merupakan parasit telur yang polyphage
dan cosmopolitis. Di indonesia dikenal sebagai parasit telur penggerek batang
tebu. Misalnya : Argyroploce schistaceana, Sesamia inferens,
Chilotraea infuscatella, Chilo auricilius, Chilo sacchariphagus.
Sistematika Trichogramma adalah sebagai berikut:
Ordo : Hymenoptera
Sub ordo : Apocrita
Super familia : Chaleidoidea
Familia : Trichogrammatida
Genus : Trichogramma
Species : Trichogramma spp.
Species-species yang terkenal antara lain: Trichogramma
japonicum, T. Australicum, T.nana, T.minutum.
3.6. TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAMA BELALANG
Pengendaliannya
:
- Menanam tanaman tebu secara serentaK
- Membersihkan sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi tempat berkembang biak bagi belalang.
- Menangkap belalang pada pagi hari dengan menggunakan jala penangkap.
- Penangkapan menggunakan umpan bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga.
- Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi belalang.
- Melakukan pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.
DAFTAR PUSTAKA
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT), 2010, Badan
Penelitian Pengembangan Pertanian, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Sistem
Bubu Perangkap teknologi Ramah Lingkungan Pengendalian Tikus, (http://ardiant181.wordpress.com/2009/01/03/) diakses Mei 2011
Tanaman Perangkap TBS (Trapp Barier
system) untuk hama tikus, (www.youtube.com/watch?v=gd38md6G3IQ), diakses Mei 2011
Pemasangan Pagar Plastik dan Bubu Perangkap Hama
Tikus (http://bengkulu.litbang.deptan.go.id/ind), diakses Juni 2011.
DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN - KEMENTERIAN PERTANIAN
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Kanpus Deptan, Pasar Minggu-Jakarta 12550 (Telp. 021-7815380-4)
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN - KEMENTERIAN PERTANIAN
Jl. Harsono RM No.3, Gedung C Kanpus Deptan, Pasar Minggu-Jakarta 12550 (Telp. 021-7815380-4)
binaukm.com/2010/06/teknik-pemeliharaan-tebu-dalam-usaha-budidaya-tebu
ditjenbun.deptan.go.id/...view=article&id=76:hama-pemakan-akar-tebu.
ditjenbun.deptan.go.id/...id=122:pengendalian-tikus-pada-tebu-lahan.
bbtebu.litbang.deptan.go.id/.../510-pengendalian-hama-penggerek-batang
Adakah musuh alami kutu perisai ( parasitoid/predator ) yang bisa dikembang biakan di laboratorium
BalasHapus